 |
|
Pastor Yoseph Jaga Dawan, SVD
Pastor Paroki St.
Mikael Kranji
Ketua PGDP Santo
Albertus Harapan
Indah-Bekasi
BELAJAR DARI GEREJA
AWALI
(
Kis 2: 41 -42 ) 
|
Gereja di Yerusalem mulai dengan keanggotaan yang meledak.
Pada awalnya hanya ada 11 rasul, Bunda maria, dan beberapa murid Yesus yang
berkumpul ketika Roh Kudus turun atas mereka pada Hari Raya Pentakosta. Namun,
ketika terjadi mujizat bahasa, berkumpullah banyak orang dan Petruspun berkotbah
dihadapan mereka. Hasilnya, Gereja lahir, dan kelahirannya pun bukan suatu
peristiwa yang kecil. Sekitar 3.000 orang bergabung di dalamnya.
Gereja di Stasi St.Albertus, yang diproyeksikan untuk menjadi Paroki yang
mandiri, tidak bisa dipandang sebagai jemaat yang kecil juga. Sekitar 5.000 jiwa
telah menjadi anggotanya, dan sekarang para anggota Gereja stasi ini, sedang
berjuang untuk membangun sebuah rumah bagi Tuhan.
Sebagai jemaat yang tidak kecil, dan baru dalam tahap
pembentukan sebagai Paroki, stasi juga menghadapi berbagai masalah, selain
masalah-masalah rutin dalam pembangunan jemaat, proyek pembangunan rumah Tuhan
dengan nilai yang tidak kecil, merupakan masalah besar yang sedang dihadapi
stasi. Namun sebenarnya masalah besar ini akan lebih mudah diatasi, jika
masalah-masalah rutin dalam membangun jemaat ditangani dengan seksama. Dalam
kaitan inilah mungkin akan sangat bermanfaat apabila kita belajar dari Gereja
Awali, yang juga berada pada tahap perjuangan untuk membangun jemaat yang
mandiri.
Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari
itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam
pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk
memecahkan roti dan berdoa (Kis 2:41-42).
Anggota Gereja Awali ini jelas terdiri dari berbagai macam kelompok yang
berkumpul di Yerusalem pada Hari Raya Pentakosta itu. Kelompok-kelompok ini
paling sedikit berasal dari 10 budaya yang berbeda dan dapat dipastikan
kelompok-kelompok itu tidak saling mengenal dengan baik. Secara mendadak,
mendirikan Gereja dengan kelompok-kelompok yang mempunyai latar kebudayaan yang
berbeda-beda dan hal seperti itu jelas tidak mudah. Tetapi, nyatanya bahwa Tuhan
telah melakukannya. Inilah ciri-ciri yang menandai Gereja Awali itu :
1. DI- BAPTIS
Baptis merupakan tanda/ meterai bahwa seseorang menjadi pengikut Kristus, dan
disebut sebagai orang kristen. Jadi kalau pada saat itu ada sekitar 3.000 orang
yang memberikan diri dibaptis, berarti ada 3.000 orang kristen baru. Sampai
sekarang, baptis merupakan upacara penerimaan seseorang ke dalam Gereja. Lazim
disebut sebagai Sakramen Inisiasi. Dengan baptis, orang menyatakan tobat dan
penyesalan dosa, menerioma Yesus sebagai Juru Selamat, diangkat menjadi anak
Allah, dan menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus, yakni Gereja. Baptis sekaligus
merupakan pintu gerbang untuk penerimaan sakramen-sakramen lainnya. Umat dari
suatu Gereja yang hidup, adalah umat yang selalu menyadari makna sakramen baptis
ini dalam hidupnya. Mereka tidak akan menyia-nyiaakn kesempatan yang telah
mereka terima lewat Sakramen Baptis. Sebaliknya, mereka akan mengungkapkan
keselamatan itu lewat cara hidup yang baik, sesuai dengan iman kristianinya.
2. BERTEKUN DALAM PENGAJARAN PARA RASUL
Pengajaran para rasul bersumber pada Perjanjian Lama dan pengajaran Yesus, yang
kemudian disebut sebagai Perjanjian Baru. Seluruh kehidupan Gereja tidak bisa
terlepas dari pengajaran para rasul ini. Oleh karena itu, Gereja disebut
apostolik, yang berarti berasal dari para rasul.
Petrus menasehati kaum beriman agar mereka selalu merindukan “air susu yang
murni dan rohani” agar bisa tumbuh sebagai seorang yang diselamatkan. ( 1 Ptr
2:2). Bukankah “air susu yang murni dan rohani” bersumber pada Sabda Allah yang
diajarkan oleh para rasul ? Jemaat kristen yang hidup adalah jemaat yang rajin
membaca dan merenungkan Sabda Allah. Mereka selalu menemukan kekuatan dalam
kelemahan mereka, penghiburan dalam kesedihan mereka, sukacita dan dukacita
mereka, jalan dalam kebuntuan mereka, semata-mata karena mendapatkan inspirasi
dari Alkitab. Mereka tidak mencari jalan lain selain dari Sabda Allah ini.
3. BERSEKUTU
Apa yang terpikirkan oleh Anda jika mendengar kata ”persekutuan” ? Suatu
kelompok kategorial ? Suatu kegiatan sosial keagamaan ? Kata ”persekutuan”
diterjemahkan dari kata dalam bahasa Yunani ”koinonia”, yang berarti berbagi
kekayaan bersama. Ini akan semakin dijelaskan dalam ayat 44.
Jadi, inti dari persekutuan adalah ”berbagi bersama” apa yang kita miliki. Coba
kita renungkan. Gereja terdiri dari berbagi macam orang dengan berbagi macam
latar belakang kehidupan. Ada dari kalangan atas, kelas menengah dan kelas
bawah. Ada yang berpendidikan tinggi, ada yang sama sekali tidak mengenyam
pendidikan. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang berkulit hitam, sawo
matang, kuning dan putih. Namun semuanya mempunyai satu kesamaan yakni Yesus
Kristus.
Ialah yang menjadikan dasar dari persekutuan kita. Iman, harapan dan kasih kita
kepadaNyalah yang menjadi perekat utama kebersamaan kita. Semakin kokoh iman,
harapan dan cinta kepada Yesus, semakin kokoh pula persekutuan kita sebagai umat
beriman, sebab kokohnya iman, harapan dan kasih itu terwujud dalam semakin
kokohnya anggota-anggota jemaat saling mengasihi. Itulah tanda utamanya. Jika
suatu anggota satu jemaat ”kurang bersekutu” dan justru saling bertengkar, itu
merupakan tanda bahwa mereka juga kurang beriman, berharap dan mencintai Yesus.
Jemaat kristiani yang hidup adalah jemaat yang saling memperhatikan, saling
berbagi, saling memberi dan menyumbangkan apa yang mereka mampu sumbangkan.
4. MEMECAHKAN ROTI
Meskipun tidak ditulis dengan jelas apakah ”memecahkan roti” merupakan suatu
kegiatan liturgis ”Perayaan Ekaristi”, namun dipastikan bahwa apa yang mereka
lakukan merupakan embrio dari ”Perayaan Ekaristi”. Jemaat kristen yang sejati
bertekun dan selalu merindukan santapan rohani Ekaristi, sebab Ekaristi tidak
hanya memberikan jaminan keselamatan kekal, melainkan juga merupakan kekuatan
rohani khusus yang disediakan Tuhan bagi kita dalam mengarungi hidup di dunia
ini. Sengsara, Wafat, Kebangkitan dan Kemuliaan Kristus yang dihadirkan dalam
Perayaan Ekaristi selalu menyadarkan kita bagaimana seharusnya hidup sebagai
seorang kristen dijalankan. Di dalam ayat 46, ditulis bahwa mereka melakukan
”pemecahan roti” ini dari rumah ke rumah, sebab waktu itu mereka belum memiliki
tempat ibadah sendiri. Pada gilirannya nanti, ketika jemaat semakin berkembang
dan jelas-jelas terpisah dari jemaat Yahudi, tempat ibadah khusus mulai mereka
dirikan. Tetapi jelas, sejak awal umat selalu berusaha menyediakan tempat ibadah
untuk melaksanakan ”perayaan Ekaristi”. Dengan kata lain, jemaat kristiani yang
hidup adalah jemaat yang menjadikan Ekaristi sebagai pusat hidup kita, dan
karena itu mereka juga akan berusaha keras untuk menyediakan tempat khusus agar
Perayaan Ekaristi bisa berlangsung secara khidmat.
5. BERDOA
Meskipun disebutkan terakhir, berdoa tidak kalah penting dari ciri-ciri yang
lain. Gereja yang tidak berdoa jelas bukan Gereja sejati.
Doa merupakan komunikasi yang tiada henti antara manusia dengan Tuhan. Hanya
lewat doalah, kita bisa mendengar dan tahu kehendak Tuhan atas diri kita. Karena
itu, dalam setiap langkah yang kita ambil, doa harus menduduki tempat utama,
agar langkah yang kita jalankan benar-benar selaras dengan kehendak Tuhan
sendiri. Anggota-anggota jemaat kristiani yang hidup selalu menyediakan waktu
khusus untuk berdoa. Hanya lewat doalah, keselamatan semakin dikenal dan
tersebar ke segala penjuru dunia.
KESIMPULAN
Membangun Rumah Tuhan hanyalah suatu perwujudan, suatu aksi nyata dari suatu
jemaat yang dibaptis, bersatu dan saling berbagi, tekun mendengarkan Sabda Tuhan
dan merayakan Ekaristi, serta tak henti-hentinya berdoa. Jika aksi ini lahir dan
muncul dari jemaat yang mempunyai ciri-ciri seperti itu, dapat dipastikan usaha
tersebut bersumber dari kehendak Allah sendiri, sebab usaha itu lahir dan
dijalankan oleh suatu jemaat yang penuh dengan kasih kepada Tuhan, dan satu sama
lain. Rumah Tuhan yang mereka bangun akan menjadi rumah yang teduh dengan
dasarnya adalah suatu jemaat yang penuh kasih. Semoga
dalam usaha membangun Rumah Tuhan, jemaat stasi St.Albertus menyadari dan
mewujudkan ciri-ciri ini sehingga Rumah Tuhan bisa berdiri kokoh sebagai Rumah
Kasih.
Dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin.
|
 |